Home > Artikel Islami > Kiat Agar Kita Tidak Malas Beribadah Di Bulan Ramadhan

Kiat Agar Kita Tidak Malas Beribadah Di Bulan Ramadhan

September 22, 2008

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan berkah, rahmat, dan maghfirah. Alangkah ruginya jika kita tidak memaksimalkan bulan ini dengan beribadah. Dan, alangkahnya beruntungnya orang-orang yang menjadikan detik demi detik hidupnya dengan dzikir, tilawah, shalat, dan ibadah-ibadah lainnya. Saat sedang menunggu seseorang, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu hanya dengan melamun atau melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat. Ia gunakan waktu itu untuk berdzikir, tilawah, atau membaca buku. Jadilah ia mendapat pahala yang berlipat ganda melebihi jika ia beribadah di bulan lainnya.

Mungkin kiat-kiat berikut ini dapat membantumu agar tidak malas beribadah di bulan Ramadhan. Mari bersama kita mengisi bulan ini dengan amal-amal ibadah, melebihi bulan-bulan sebelumnya, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Mari kita ramaikan masjid, rumah, dan majelis-majelis pertemuan kita dengan berbagai aktivitas ibadah.

1. Mengetahui keutamaan-keutamaan amal ibadah

Pertama, ketahuilah keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan. Dan kedua, ketahuilah keutamaan-keutamaan amal ibadah. Karena, dengan mengetahui keutamaan-keutamaan itu, diharapkan motivasi kita dalam beramal semakin meningkat.

2. Bersegera memenuhi panggilan Allah
Apabila telah datang panggilan Allah untuk shalat, janganlah engkau menunda-nundanya untuk segera pergi shalat berjamaah. Karena jika engkau tunda, maka bisikan setan akan semakin menguat dalam dirimu. Setan akan berbisik pada hatimu, “Masih ada waktu untuk mengerjakan shalat.” Setelah satu jam berlalu, setan kembali berkata, “Tidur saja, masih ada waktu satu jam lagi.” Karena mengantuk, akhirnya kita pun tertidur. Setelah waktu shalat telah habis, setan berkata, “Jangan bersedih, tenang saja, masih ada waktu untuk bertobat, shalat bisa di qodho.” Begitulah seterusnya. Memperturutkan keinginan setan hanya semakin menjauhkan kita dari Allah. Setan akan terus menggoda manusia hingga akhirnya manusia takluk di tangannya. Pertama dengan dosa kecil, kemudian dengan dosa menengah, kemudian dengan dosa besar.

Jika engkau tidak segera beramal, maka titik kemalasan dalam hatimu akan muncul, sebagaimana halnya titik hitam apabila sebuah dosa dilakukan. Sampai pada akhirnya kemalasan itu menjadi bagian dari dirimu. Namun, jika engkau segera beramal, yang hadir justru kekuatan, semangat dan antusiasme yang tinggi, walaupun sebelum mengerjakannya ada perasaan berat. Tapi, percayalah, hal itu bukan terjadi karena amal itu sendiri, melainkan di dalam dirimu sedang terjadi pertarungan antara setan dengan malaikat, dan akhirnya malaikat keluar sebagai pemenang, dan engkau pun dapat mengerjakan amal itu. Alhamdulillah.

Rasulullah Saw. dan kaum muslimin diperintahkan Allah agar setelah selesai dari satu amal, beralih pada amal yang lain (faidza faraghta fanshab). Karena, bisa jadi orang yang paginya beriman, namun sorenya kafir. Dan, yang sorenya beriman, paginya menjadi kafir. Hal ini terjadi karena kita memberikan ruang kosong dalam hidup kita. Apabila sudah lelah bekerja dan beramal, beristirahatlah. Apabila sudah berilmu, beramallah. Apabila sudah selesai shalat fardhu, berdzikirlah, kemudian kerjakan shalat sunah, dan seterusnya, sesuai dengan jadwal pekerjaan apa saja yang akan kita lakukan. Begitulah hidup ini tidak pernah berhenti sampai Allah-lah yang menghentikannya. Jangan biarkan setan dengan leluasa menggoda kita. Akal dan hati kita harus disibukkan dengan sesuatu yang bermanfaat. Apabila akal dan hati kita kosong, maka setan akan dengan mudah menyusupkan bisikannya kepada kita, dan kita akan dengan mudah tergoda melakukan apa yang dibisiki setan itu.

3. Merenungkan kembali ketekunan beribadah orang-orang saleh
Sebagai contoh, jika malas mengerjakan shalat berjamaah di masjid, ingatlah Abdullah bin Ummi Maktum. Abdullah adalah salah seorang sahabat Nabi Saw. yang buta matanya, tapi beliau sangat rajin pergi shalat berjamaah di masjid. Lalu, bagaimana dengan kita? Kita dapat melihat, tapi rasa-rasanya untuk urusan shalat berjamaah di masjid, sangat berat sekali melakukannya. Bahkan, meskipun masjid itu hanya berjarak beberapa meter dari rumah, tetap saja malas untuk melangkah ke arahnya. Ternyata amal seorang yang buta jauh lebih baik dan lebih banyak ketimbang amal seorang yang dapat melihat. Sebenarnya, siapa yang dapat melihat (kebenaran) itu? Apakah orang yang buta matanya atau buta hatinya?

Banyak kisah dapat kita jadikan pelajaran dan renungan apabila rasa malas mulai menggerogoti jiwa kita. Cobalah engkau renungkan kisah-kisah ulama dan para mujahidin yang dipenjara. Penjara yang sempit itu bukannya malah melemahkan semangat, justru disana ia dapat beribadah lebih banyak dan lebih khusyu. Mereka juga dapat berkarya dengan hati merdeka. Bandingkan dengan kita yang hidup di alam bebas, dapat melangkah kemana pun kita mau, dapat melakukan apa pun yang kita mau, tapi ternyata dunia yang luas terasa sempit, sangat sempit, lebih sempit dari penjara. Renungkanlah!

4. Jangan berlebih-lebihan
Sikap berlebih-lebihan baik dalam berbagai hal hanya menghasilkan sesuatu yang negatif. Berlebih-lebihan dalam makan dan minum dapat menjadikan kegemukan yang berlebihan, didominasi syahwat, yang selanjutnya badan terasa berat, tidak cekatan, malas, dan lambat. Barangkali inilah rahasia Allah dan Rasul-Nya melarang manusia berbuat berlebih-lebihan. Allah Swt. berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. al-A’raf: 31).

Kita harus memperhatikan hal ini dengan seksama. Jangan sampai saat kita berbuka maupun sahur, kita makan dan minum secara berlebih-lebihan sehingga mengakibatkan hal yang disebutkan di atas.

Termasuk berlebih-lebihan yang tidak boleh adalah berlebih-lebihan dalam masalah agama. Syaikh Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya Afaatun ‘Ala ath-Thariq mengatakan, “Dengan sangat tekun melaksanakan ketaatan dan menghalangi tubuhnya untuk mendapatkan hak-haknya seperti istirahat dan memakan makanan yang baik-baik. Sikap seperti ini akan mendatangkan kelemahan, loyo, jenuh, dan bosan, yang selanjutnya akan memutuskan dan meninggalkan aktivitasnya itu. Bahkan kadang-kadang dapat menyimpang dengan menempuh jalan lain yang merupakan kebalikan dari jalan yang selama ini ditekuninya.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam beragama.” (HR. Ahmad). Sabdanya yang lain, “Celakalah al-mutanaththi.” Kalimat ini beliau ucapkan tiga kali. Yang dimaksud “al-Mutanaththi” ialah orang yang berlebih-lebihan, yang melewati batas dalam perkataan dan perbuatannya. Rasulullah Saw. juga bersabda, “Sesungguhnya agama Islam itu mudah, dan tidaklah seseorang memberat-beratkan diri dalam beragama melainkan ia akan dikalahkan olehnya.” (HR. Bukhari).

Apabila sudah mengantuk, tidurlah. Apabila sudah tiba waktu berbuka, bersegeralah berbuka. Apabila masuk waktu sahur, sahurlah, karena hal itu akan menguatkan orang yang berpuasa. Tubuh kita punya hak atas diri kita. Rasulullah Saw. adalah orang yang paling saleh, tetapi beliau juga makan, minum, tidur, berhubungan intim dengan istrinya, pergi ke pasar dan lain-lain.

5. Mandi
Dengan mandi, tubuh kita akan terasa segar kembali. Dalam situs kapanlagi.com disebutkan tentang manfaat mandi ini: Sebuah studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine menunjukkan penderita diabetes yang menghabiskan hanya setengah jam berendam dalam bak air hangat dapat menurunkan tingkat gula darah sekitar 13 persen.

Penelitian terpisah di Jepang menunjukkan 10 menit berendam dalam air hangat dapat memperbaiki kesehatan jantung baik pria maupun wanita, membantu mereka menjalani test olahraga lebih baik dan mengurangi rasa sakit.

Disamping itu, mandi dapat mengeluarkan racun, mengurangi stress, menyembuhkan penyakit kulit, menyembuhkan infeksi, mengobati flu dan sakit kepala, mengobati susah tidur, dan memperlancarkan sirkulasi.

6. Makan sahur
Pen-syarah kitab Shahih Bukhari, Imam Aini Rahimahullah meriwayatkan hadits mengenai keutamaan makan sahur dari 17 orang sahabat. Sedangkan menurut Imam Ibnu Hajar Rahimahullah dalam kitab Fathul Bari disebutkan, setidaknya ada delapan keberkahan dari makan sahur: Mengikuti sunnah, membedakan dari cara berpuasanya Ahli Kitab, menambah kekuatan untuk beribadah, meningkatkan keikhlasan dalam beribadah, menghilangkan amarah akibat perasaan lapar, membantu orang lain dalam memberikan makan sahur, waktu diijabahnya doa, dan mendapatkan taufik untuk berdoa dan berdzikir.

Rasulullah Saw. bersabda, “Perbedaan antara puasa yang kita lakukan dengan puasa yang dilakukan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) adalah dalam makan sahur yang mereka tidak melakukannya.” Rasulullah Saw. juga bersabda, “Sesungguhnya Allah beserta para malaikat-Nya mengirimkan rahmat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Thabrani dan Ibnu Hibban).

Apabila Rasulullah Saw. mengundang para sahabat untuk makan sahur, beliau selalu bersabda, “Marilah makan makanan yang penuh berkah ini bersama-sama denganku.” Dalam sebuah hadits dikatakan, “Bersahurlah sehingga engkau mendapat kekuatan dalam puasamu. Dan tidurlah setelah tengah hari untuk membantumu bangun pada akhir malam (untuk beribadah).”

Abdullah bin Harits Ra. meriwayatkan dari salah seorang sahabat, “Suatu ketika aku mengunjungi Rasulullah Saw. ketika sedang makan sahur. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, ‘Inilah perkara yang penuh dengan keberkahan yang telah dikaruniakan Allah kepadamu. Janganlah kamu meninggalkannya’.”

Dalam berbagai riwayat, Rasulullah Saw. sering memberikan dorongan untuk makan sahur, sehingga beliau bersabda, “Jika tidak ada apa-apa, maka bersahurlah walaupun dengan sebiji kurma atau seteguk air.”

7. Istirahat
Kita memerlukan istirahat guna menguatkan kembali tubuh agar dapat beribadah dengan lebih baik. Jika sudah lelah dalam mengerjakan aktivitas ibadah, beristirahatlah. Lupakan segala aktivitas-aktivitas itu dan berkonsentrasilah untuk istirahat. Jangan sampai susah tidur karena pikiran yang melanglangbuana kesana kemari, padahal engkau sudah merasa amat lelah. Rasulullah adalah contoh teladan dalam beristirahat dengan kualitas yang baik. Insya Allah, istirahat yang kita lakukan mendapat pahala dari-Nya, karena niat kita beristirahat adalah untuk suatu tujuan yang mulia. Bukankah segala sesuatu diawali dari niat? Sebuah kaidah fikih menyebutkan, sarana yang mengantarkan kita pada tujuan, jangan kita sia-siakan. Begitupun dengan istirahat, ia adalah sarana, sedangkan tujuan kita adalah ibadah. Sebagaimana firman Allah yang menyebutkan, “Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Dengan menjalankan ketujuh kiat yang sederhana ini, mudah-mudahan kita dapat terhindar dari penyakit malas dalam mengisi bulan Ramadhan ini. Jika tidak memaksimalkan sekarang, entah kapan lagi. Kita tidak tahu, apakah tahun depan kita dapat menemui Ramadhan atau tidak. Bertemu dengannya saat ini saja senangnya bukan main, bersyukur Alhamdulillah. Apakah kita harus memikirkan sesuatu yang belum pasti, sementara nikmat yang ada di depan mata tidak kita ambil? Seperti sebuah syair nasyid,
Apa yang ada jarang disyukuri
Apa yang tiada sering dirisaukan
Nikmat yang diberi baru kan terasa
Bila hilang di dalam genggaman

Sumber:
http://abufarras.blogspot.com

Categories: Artikel Islami
%d bloggers like this: