Home > Artikel Islami > HUKUM MERIWAYATKAN DAN MENGAMALKAN HADIST-HADIST DHA’IF

HUKUM MERIWAYATKAN DAN MENGAMALKAN HADIST-HADIST DHA’IF

June 28, 2008

HUKUM MERIWAYATKAN DAN MENGAMALKAN HADIST-HADIST DHA’IF UNTUK FADHAA-ILUL A’MAL (KEUTAMAAN AMAL) TARGHIB DAN TARHIB DAN LAIN-LAIN

Dalam membahas masalah ini dibagi menjadi dua bagian :

PERTAMA

Menjelaskan beberapa kesalahan dan kejahilan dalam memehami perkataan sebagian ulama tentang mengamalkan hadist dhaif untuk fadhaa-ilul a’mal :

1.Kebanyakan dari mereka menyangka bahwa masalah mengamalkan hadist-hadist dhaif untuk fadhaa-ilul a’mal atau targhib dan tarhib tidak ada khilaf lagi – tentang bolehnya- diantara para ulama. Inilah persangkaan yang jahil. Padahal , kenyataannya justru sebaliknya.

Yakni telah terjadi khilaf diantara mereka para ulama sebagaimana diterangkan secara luas di dalam kitab-kitab musthalah . dan menurut mazhab Imam Malik , Syafi’I , Ahmad bin Hambal , Yahya bin Ma’in, Abdurahman bin Mahdi , Bukhari , Muslim , Ibnu Abdil Baar , Ibnu Hazm dan para imam ahli hadist lainnya , mereka semua TIDAK MEMBOLEHKAN beramal dengan hadist dhaif SECARA MUTLAK meskipun untuk fadhailul a’mal dan lain-lain. Tidak syak lagi inilah mazhab yang haq. Karena tidak ada hujjah kecuali hadist-hadist yang telah tsabit dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam . Cukuplah saya turunkan perkataan Imam Syafi’I :” idza shohhal hadistu fahuwa mazhabiy” apabila telah sah suatu hadist . maka itulah mazhabku.


2.Mereka memahami bahwa mengamalkan hadist dha’if itu untuk menetapkan (itsbat) tentang suatu amal. Baik mewajibkan , menyunatkan (mustahab) , mengharamkan atau memakruhkannya meskipun tidak datang nash dari Al kitab dan As Sunnah. Seperti mereka telah menetapkan dengan hadist-hadist dha’if beberapa macam shalat sunat dan ibadah lainnya yang sama sekali tidak ada dalil shahih dari As Sunnah secara tafsil (terperinci) yang menerangkan tentang sunatnya. Kalaupun demikian pemahaman mereka dalam mengamalkan hadist-hadist dha’if untuk fadhaailul a’mal.
Allahumma ! Memang demikianlah yng selama ini mereka amalkan. Maka, jelaslah bahwa mereka telah menyalahi ijma ulama sebagaimana diterangkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Karena barang siapa yang menetapkan (istbat) tentang sesuatu amal yang tidak ada nashnya dari al Kitab dan As Sunnah baik secara jumlah (garis besarnya) dan tafsil atau secara tafsil (rinci) saja, maka sesungguhnya ia telah membuat syariat yang tidak diizinkan oleh Allah Jalla wa ‘Alaa.

Kepada mereka ini , Imam Syafi’I , telah memperingatkan dengan perkataannya yang masyhur :”man istahsana faqod syaro’a” – barang siapa yang menganggap baik (istihsan) – yakni tentang suatu amal yang tidak ada nash dan Sunnah – maka sesungguhnya ia telah membuat syariat baru !!!! Semoga Allah merahmati Imam Syafi’I yang terkenal dikalangan salaf sebagai naashirus sunnah (pembela sunnah).
Ketahuilah! Bahwa yang dimaksud oleh sebagian ulama boleh beramal dengan hadist-hadist dho’if untuk fadhail a’amal atau targhib dan tarhib , ialah apabila yelah datang nash yang shahih secara tafsil (rinci) yang menetapkan tentang suatu amal – baik wajib, sunat,haram atau makruh- kemudian datang hadist-hadist dho’if (yang ringan dho’ifnya) yang menerangkan tentang keutamaannya (fadha’il a’mal) atau targhib dan tarhib dengan syarat hadist-hadist tsb tidak sangat dho’if atau maudhu’ (palsu), maka inilah yang dimaksud.

3.Salah faham dengan perkataan Imam Ahmad bin Hambal dan ulama salaf lainnya yang semakna perkataannya dengan beliau yang menyatakan :
“Apabila kami meriwayatkan dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tentang halal, haram , sunan (sunat-sunat) dan ahkam, KAMI KERASKAN (yakni kami periksa dengan ketat) sanad-sanadnya. Dan apabila kami meriwayatkan dari nabi shalallahu alaihi wa sallam tentang FADHA ILUL A’MAL dan tidak menyangkut hukum dan tidak marfu’ (tidak disandarkan kepada beliau shalallahuu alaihi wa sallam ) KAMI PERMUDAH di dalam (memeriksa) sanad-sanadntya. (shahih riwayat Imam Al Khatib al Bhagdhadi dikitabnya al kifaayah fi ilmir riwaayah hal 134)

Perkataan Imam Ahmad diatas diriwayatkan juga oleh Imam-imam yang lain (banyak sekali) tetapi tanpa tambahan : dan yang tidak marfu . Maksudnya : Riwayat-riwayat mauquf (yakni perkataan dan perbuatan shahabat) atau riwayat-rwayat dari tabi’in dan atha’ut taabi’in. Kebanyakan dari mereka dalam memahami perkataan Imam Ahmad diatas, bahwa BELIAU MEMBOLEHKAN mengamalkan hadist-hadist dha’if untuk fadha ilul a’mal !!
Jelas sekali , pemahaman diatas keliru bila ditinjau dari beberapa sudut ilmiah, diantaranyaa ialah :” bahwa yang dimaksud oleh Imam Ahmad bin Hambal dengan tasahul (bermudah-mudah) dalam fadha ilul a’mal ialah hadist-hadist yang DERAJATNYA HASAN (bukan hadist-hadist dha’if meskipun ringan kelemahannya). Karena , hadist pada zaman beliau dan sebelumnya tidak terbagi kecuali menjadi 2 bagian : SHAHIH dan DHA’IF.

SEDANGKAN HADIST DHA’IF TERBAGI PULA MENJADI 2 BAGIAN
PERTAMA : hadist-hadist dha’if yang ditinggalkan , yakni tidak dapat diamalkan atau dijadikan hujjah.
Kedua : Hadist-hadist dha’if yang dipakai, yakni dapat diamalkan atau dijadikan hujjah .
Yang terakhir ini kemudian dimasyhurkan dan ditetapkan sebagai salah satu bagian dari derajat hadist oleh Imam Tirmidzi dengan istilah HADIST HASAN. Jadi , Imam Tirmidzi yang PERTAMA KALI membagi derajat hadist menjadi bagian : SHAHIH , HASAN dan DHA’IF.

Demikianlah penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qoyyim dan para ulama lainnya. Continue….

Categories: Artikel Islami
%d bloggers like this: